PG13/1ST/(S/Y?)/TRUSTY

Annyeoong yeoreobuuuun… *hug atu2*

Saya bawa ff geje dan menyebalkan yang mungkin bakal membuat semua marah padaku atau sebaliknya?

Entahlah…

Hahaha

Sebelum pada baca, aku bakal ngasih  tahu kalo ini cuma pikiran-pikiran kejiku aja…

Bukan kenyataan ^^

Jadi kalo ada kata-kata yang tidak mengesankan,mohon maafkan *deep bow*

Aku tahu, aku bukan author yang baik dalam hal tulis menulis…

Tapi aku mohon DON’T BE SILENT READER

*ceileh bahasaku*

 

Nb: bacanya sambil dengerin I Love You (Junho), Wasurenaide, White Lie dkk ^^

 

Yoooo…CHEK IT OUT ^0^

——————-

Aku menatap nanar kedua sahabatku yang sedang menyanyi di depanku. Sekarang kami sedang berada di LA untuk pembuatan album baru kami, tanpa mereka. Sungguh mengenaskan bukan? Lima tahun bersama dan berakhir dengan perpecahan? Kepercayaan yang kami bangun bersama hancur begitu saja hanya karena keegoisan kami atau mereka? Entahlah, yang jelas ini terjadi karena sikap pengecut kami semua. Jika memang kami ingin bersama, mengapa kami tak memberontak saja? Persetan dengan mereka, persetan dengan semua orang. Mengapa semua ini harus terjadi? Itulah yang selalu kupikirkan. Andai waktu itu kami… Andai waktu itu.. dan selalu saja andai waktu itu, selalu berandai-andai dalam pikiran. Mengapa tidak bertindak saja daripada menghabiskan hidup dengan berandai-andai? Itulah… karena kami terlalu pengecut.

Menyebalkan mungkin mengakui bahwa kami ini memang pengecut yang selalu bersembunyi di balik dukungan fans kami. Tapi itulah kenyataannya, mengapa takut untuk mengakuinya?

Bukankah lebih baik begitu di banding terus saja lari dari kenyataan?

“Junsu, apa kau sakit?,” suara Jaejoong membuyarkan lamunanku.

Aku menengok ke arah Junsu, benar saja wajahnya begitu pucat, begitu mengenaskan. Tapi bukan Junsu namanya jika tak mampu menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Dia menggeleng dan menyunggingkan senyum kepada kami berdua. Mungkin dia mengira kami akan percaya begitu saja, tapi itu salah. Tidakkah dia berpikir? Kami selalu bersama hampir lima tahun lebih. Tapi kami diam saja, tak bertanya apapun lagi. kami tahu, jika dia sudah mengatakan tidak, maka kami harus menurutinya. Dia terlalu baik kukira dengan tidak membiarkan seorangpun khawatir akan dirinya.

Aku sedih, kau tahu? Mungkin kau harus tahu memang. Tapi seperti biasa, bibir ini terlalu kelu untuk mengatakannya padamu. Sesungguhnya, setiap yang kau rasakan pasti akan kurasakan, ataupun mungkin kami semua?

———–

Setelah jadwal hari ini selesai, kami pulang ke penginapan kami selama di LA. Aku melirikmu, kau terlihat sangat rapuh… wajah putihmu semakin pucat. Aku mendekatimu untuk memastikan kondisimu. Tapi kau menampik tanganku ketika hendak memegang dahimu.

“Aku baik-baik saja hyung,” kau tersenyum.

Kau tahu..aku tahu kau cuma pura-pura  baik, aku tahu itu Su. Tapi kenapa? Kenapa kau tak pernah mau berbagi denganku? Kita satu.. begitukan yang kau katakan dulu? Lalu kenapa?

Aku menatap nanar punggungmu yang masuk ke dalam kamar. Sakit Su, sakiiiit…

Aku menoleh ke arah Jaejoong. Dia seperti mayat hidup. Tak mau berbicara sedikitpun….

Semenjak berita kematian Park Yongha, sahabatnya, dia menjadi pemurung. Yang biasanya dia bakal mengerjai Junsu atau bahkan aku, sekarang tidak lagi. dia lebih banyak diam dibanding bicara…

Tidakkah mereka berdua tahu? Aku juga tersiksa, tersiksa melihat mereka berdua seperti itu.

———-

Malam semakin larut, aku beranjak ke kamar. Ketika aku melewati kamar Junsu, terdengar rintihan kecil… seperti memanggil nama seseorang…. Junho?

Akupun langsung membuka pintu kamar Junsu. Benar saja, di depanku nampak Junsu yang begitu menyedihkan. Wajahnya pucat, seperti mayat dan tubuhnya menggigil. Akupun langsung mendekatinya dan oh Tuhan, dia demam…

Aku langsung menelepon manager hyung untuk datang dan setelah itu kami membawa Junsu ke rumah sakit. Jaejoong? Jangan tanya, dia semakin murung…

Stres, itulah yang cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Junsu yang belum membuka matanya dan Jaejoong yang makin murung. Sangat menyebalkan…

Tuhan… bisakah kau memberi kami jalan keluar untuk masalah yang ini?

Aku tak sanggup lagi…

——–

Hari ini tepat seminggu Junsu di rumah sakit, tapi belum ada tanda-tanda dia akan membuka matanya dan hal itu menumbuhkan kecemasan dalam diriku. Apakah dia akan membuka matanya lagi? Apakah dia bisa tersenyum lagi? Apakah dia? dan selalu apakah dia?

Pikiran-pikiran menakutkan mulai menggerogoti isi otakku. Aku frustasi, sangat frustasi malah. Dokter yang merawat Junsu sepertinya menyadari perasaanku ini. Dia mendekatiku setelah dia selesai memeriksa Junsu.

“Tenanglah, dia akan baik-baik saja dan percayalah dia pasti akan bangun,” kata dokter itu sambil berlalu.

Kata-kata dokter itu menelusup jauh ke dalam hatiku dan berhasil melepas cengkraman pikiran-pikiran menakutkan yang ada di otakku. Aku menatap punggung dokter yang sudah menjauh dan kemudian melihat ke arah sesosok manusia yang terbaring tak berdaya. Aku memandangnya sendu. Semoga saja yang dikatakan dokter itu benar.

Jika kalian bertanya dimana Jaejoong berada. Dia ada di apartemen, tetap murung dan masih saja bergelut dengan pikirannya sendiri. Mungkin rasa shock ditinggal sahabatnya belum hilang, apalagi ditambah dengan keadaan Junsu yang sekarang. Dia mungkin bertambah shock.

Sedangkan Yunho dan Changmin? Ntahlah, berita tentang mereka saja tak pernah aku dengar lagi sejak masalah itu datang menerpa kami. Bahkan parahnya aku tak tahu mereka masih hidup atau tidak. Menyebalkan bukan? Padahal saat ini aku juga ingin berbagi dengan mereka. Aku tak sanggup menghadapi ini sendiri. Tapi kemana mereka? Menelepon saja tidak.

——–

Aku pulang ke apartemen untuk mengambil baju bersih. Saat aku memasuki apartemen, tanpa sengaja aku melihat Jaejoong sedang melamun sambil menggenggam pisau. sontak aku langsung lari ke arahnya dan merebut pisau dari tangannya.

“KAU GILA JAE…” teriakku setengah frustasi.

“Mian,” Cuma itu yang keluar dari mulutnya.

Aku mengatur nafasku supaya kembali normal. Aku tak boleh memarahi Jaejoong, itu saran dokter. Katanya perasaan dia masih labil, jadi harus menjaga perasaannya. Menyebalkan…

“mian..” kataku lirih.

“Jangan lakukan itu lagi, arasseo? Kau tahu itu hanya akan menambah kesedihan saja. Sekarang cepat kau siap-siap, kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Kau juga sekali-kali harus menjenguk Junsu juga kan?”

“Nee, mian,” diapun masuk ke kamarnya untuk mengambil barang yang diperlukannya.

———

Aku dan Jaejoong masuk ke kamar dan mendapati Junsu duduk sambil menyandarkan punggungnya kepinggiran ranjang. Aku menghela nafasku lega. Ternyata dia sudah bangun.

Kami mendekatinya dan dia tersenyum ke arah kami. Manis, pikirku.

“hyung, sejak kapan dia sadar?” tanyaku pada manager hyung yang menggantikanku menjaganya ketika aku pulang.

“Tak lama setelah kau pulang,”

“Curaaaaang..” Sungutku.

“heh?” tanyanya tak mengerti.

“Kenapa saat aku di dekatmu, kau tak membuka mata sih? Kau tahu aku sangat khawatir dan sempat berfikir kau tak akan membuka matamu dan tersenyum kepada kami lagi,” tak terasa, air mataku meleleh begitu saja.

“Tapi sekarang aku sudah bangun, jadi jangan menangis lagi..jebaaaal..uljima..” dia menghapus air mataku.

Hal itu bukannya menenangkanku malah makin membuatku tambah menangis.

“Kenapa masih menangis?” tanyanya khawatir.

“Aniii..aku hanya…lega,” aku berusaha tersenyum.

“Ah hyung ke sini?” tanya Junsu ke Jaejoong yang keberadaanya hampir kulupakan.

“Nee,” jawab Jaejoong sambil tersenyum.

Senyum pertama mungkin, setelah kematian Park Yongha.

Akhirnya… mereka kembali normal…jaejoong sembuh, Junsu juga sembuh..

Tapi DBSK belum sembuuuh…

———

“Jae,Su…” panggilku ketika kami kembali ke apartemen.

“Wae?” tanya mereka bersamaan dan langsung mengambil tempat di depanku.

“Bisakah kita saling membagi?”

Mereka memandangku dengan tatapan ‘apa maksudmu Park Yoochun?’

“err.. maksudku, bisakah kalian lebih terbuka satu sama lain… atau lebih tepatnya kepadaku? Kalian tahu akhir-akhir ini aku menderita melihat kalian seperti itu. Kalian tahukan, kita hanya tinggal  bertiga…aku merasa…” aku menundukkan kepalaku.

“sssttt…Jangan katakan itu Chunnie…Kita masih bisa berlima lagi…Aku percaya itu,”  Jaejoong memelukku erat.

“Tapi bahkan mereka tak pernah terdengar kabarnya… Nomer saja diganti. Dan apakah mereka memikirkanmu dan Junsu? Tidakkan? Mereka bahkan tak terlihat batang hidungnya di sini. Hanya sekedar melihat keadaanmu dan Junsu saja mereka sepertinya enggan,” kataku setengah frustasi.

“Kau salah Chunnie,” kata Junsu tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” aku menatapnya tak mengerti.

“Mereka…aku percaya mereka mengkhawatirkan kita,”

“Apa buktinya? Tak adakan?” aku ingin sekali teriak, namun aku terlalu lemah.

“Dia..maksudku Yunho, dia meneleponku tadi dan menanyakan kabar kita semua. Dia begitu khawatir ketika mendengar tentang aku yang terpukul karena kepergian Yongha dan Junsu yang tiba-tiba drop,” terang Jaejoong.

“Kenapa kau tak memberitahuku?” aku menatapnya, meminta penjelasan.

“Mian, kupikir kau tak ingin mengetahuinya,”

“Jadi Chunnie… ku mohon jangan pernah kau berpikir bahwa kita tinggal bertiga atau berpikir kau hanya sendirian di dunia ini,” Junsu tersenyum kepadaku.

“Tapi kalian harus janji, jangan menutupi perasaan kalian lagi. Aku juga ingin menjadi tempat berbagi,” sungutku.

“Nee Chunnieeeeee…” mereka berdua mengacak-acak rabutku.

“Jadi sekarang tersenyumlaaaaaah dan ingat, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Itu hanya akan menyusahkan dirimu saja.” Perintah Junsu.

“Nee…” aku menganggukkan kepalaku dan air mataku seketika itu juga tumpah.

“yaaah BABO… kenapa menangis?” tanya Jaejoong.

“Aku hanya terharu,”

Jaejoongpun langsung memelukku.

“Curaaaaang…. aku juga mau peluk Chunnie..” teriak Junsu.

Akhirnya kami berakhir dengan pelukan yang hangat dan menyenangkan.

Aku berharap apa yang mereka katakan itu benar… dan aku juga berharap, kita bisa bersama lagi…berlima…

Ternyata selama ini aku salah.. mereka mungkin tak ingin berontak demi kebaikan kami semua…dan satu kenyataan yang baru aku tahu..mereka masih memperdulikan kami.

Dan yang jelas, kami bukan seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik fans atau mungkin sebenarnya hanya aku yang pengecut? Entahlah, pokoknya sekarang aku percaya kami hanya seorang idola yang sedang membutuhkan waktu untuk bisa bersama lagi dan membutuhkan kekuatan dari kepercayaan para fans untuk kembali bersama.

“PARK YOOCHUN JJAAAAAAAANG,” teriakku.

BLETAK

“BABO…harusnya DBSK tahu,” terang Jaejoong.

“Ah nee..hehehe,” aku tertawa.

1…2…3…

“DONG BANG SHIN KI JJAAAAAAAAAAAAANG,” teriak kami bertiga.

Untuk para cassiopeia, tolong percaya kepada kami ya…hehehe ^0^

-FIN-

 

My Love story

Tittle : My Love story

Genre : PG 13

Pairing : Yunjae

Credit : Innocent Revenge by Hazuki Rei

Author : Okty Fitria 최은희

Pagi ini matahari bersinar terang seperti biasa. Padahal sudah masuk musim hujan, tapi kenapa matahari masih menampakkan hidungnya? Ah, untuk apa aku memikirkannya. Toh nanti juga awan hitam akan memakannya dan menurunkan bulir-bulir air hujan.

Aku terus melangkahkan kakiku dengan semangat menuju sekolah. Tiba-tiba…

“Permisi, bolehkan saya bertanya dimana alamat ini?” tanya seorang wanita sambil menyerahkan secarik kertas padaku.

“ya, oh ini. Dari sini anda lurus saja, sampai pertigaan ke dua, Anda belok ke kanan,” Terangku.

“Ah terima kasih. Kau sudah cantik, baik pula,” Katanya.

Aku melotot. Kaget, shock, marah, sedih, semua bercampur menjadi satu saat itu juga. Bagaimana tidak? Aku ini seorang laki-laki, tulen lagi. Bagaimana  bisa dia bilang aku cantik? Memangnya aku wanita huh? Huft =.=’

“Mian ahjuma, tapi saya LAKI-LAKI bukan perempuan,” Terangku dengan menekan kata laki-laki.

Ahjuma itu terdiam sesaat, aku menunggu reaksi apa yang akan dia berikan padaku. Sepertinya ahjuma itu masih tidak percaya padaku. Kemudian dia mendekatiku dan hal yang tak pernah kuduga pun terjadi. Ahjuma itu tiba-tiba saja meraba dadaku. Aku berjingkat saking kagetnya.

“Ah benar, ternyata kau laki-laki,” dia tertawa dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “tapi kau terlalu cantik untuk ukuran laki-laki.”

Yeah, semua orang yang melihatku selalu berkata seperti itu, membuatku ingin menyalahkan umma yang sudah melahirkanku. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Masa aku harus bunuh diri hanya gara-gara aku terlahir cantik. Itu tidak mungkin kan? Itu tidak lucu…

“Mian.” Kata ahjuma itu setelah sadar aku tak menanggapi omongannya.

Aku tertawa sumbang, “Sudah biasa kok.”

“Ah kalo gitu ahjuma pamit dulu ya. Maaf loh karena salah mengira kau perempuan dan terima kasih karena sudah menolongku.” Setelah itu, ahjuma itu pun berlalu dari hadapanku.

Yeah, aku kira pagi ini akan menjadi pagi yang indah, tapi ternyata? Huft…

Aku meneruskan perjalananku ke sekolah. Yah, sekarang aku duduk di kelas 1 SMA dan sekolahku adalah sekolah khusus laki-laki.

Sesampainya aku di sekolah, aku menceritakan kejadian tadi kepada sahabat-sahabatku, Yoochun, Junsu ,dan Changmin. Tapi, bukannya menghibur, mereka malah menertawakanku.

“Jae, awalnya juga kami mengira kau perempuan,” Kata Yoochun yang disetujui oleh Junsu dan Changmin.

“YAH…BUKANNYA MENGHIBURKU MALAH MENGEJEKKU,” teriakku.

Mereka berhenti tertawa dan memandangku dengan kerutan di keningnya. Hal yang paling tak ku suka.

“Ya, hentikan tatapan aneh kalian padaku. Memangnya aku ini apa?” aku memanyunkan bibirku.

Aku mendengar mereka tertawa, seketika itu juga aku menyadari sesuatu. Aku mempunyai sahabat-sahabat yang sinting.

————————

Jam istirahat akhirnya datang juga. Aku sudah lelah mendengarkan ocehan guru fisika yang menurutku mampu meledakkan otakku sebentar lagi.

“Hyung, ayo ke kantiiiiiiiiin,” rengek Changmin.

Hmm.. aku belum menceritakan tentang Changmin kan? Dia ini memiliki perut seperti karet. Coba kalian bayangkan, dia mampu memakan 15 mangkok ramen dalam sekali makan. Di samping itu juga dia memakan cemilan sehabis makan. Yang aku herankan, mengapa dia tak pernah bisa gemuk?

“Aishhh,” gerutu Yoochun.

“Tidakkah kau sekali saja tak memikirkan soal makanan, huh? Kalo bisa, aku ingin melihatmu puasa.” Kata Junsu.

Aku melihat ke arah Changmin. Sekarang dia sedang manyun sambil menghadap kami bertiga.

“Hyung…” panggilnya lirih, matanya masih memandang kami dengan tatapan memelas.

“Apa kau tega jika dongsaengmu ini mati kelaparan?” tanyanya polos.

Seketika itu juga kami tertawa mendengar penuturannya. Oh Tuhan, ternyata benar… sahabatku tak ada yang waras, semuanya sinting…

Karena tak tega melihat wajahnya yang menyedihkan, akhirnya kami pun pergi ke kantin. Sejujurnya aku memang lapar karena sejak tadi pagi aku belum sarapan.

Ketika sedang dalam perjalanan menuju surganya Changmin alias kantin, aku melihat seorang laki-laki tinggi, gagah dan cukup tampan. Sepertinya aku tak pernah melihat dia di sekitar sini. Apa dia anak baru? Tapi sikapnya seperti sudah lama di sini. Ah, untuk apa aku memikirkannya. Aku pun berjalan biasa saja dan tanpa sadar kami berjalan beriringan. Kemudian laki-laki itu menengok ke arahku dan berteriak kaget. Aku menengok dan memandangnya dengan heran.

“Kenapa berteriak?” tanyaku bingung.

Laki-laki itu tertegun sebentar dan setelah itu hal yang tak kuduga, dia tertawa keras sekali, membuatku kesal.

“Ternyata kau tak berubah. Kau masih cantik, sama seperti dulu,” katanya di sela-sela tawanya.

“Siapa kau?” tanyaku kesal.

“heh? Kau tak mengenalku? Coba lihat baik-baik,” dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Siapa sih orang ini? Aku tak suka caranya mendekatkan wajahnya padaku.

“Kita sering loh tinggal di kelas pulang sekolah,” katanya lagi.

Tunggu… setahuku orang sering bersamaku pulang sekolah yang itu cuma Yunnie. Apa jangan-jangan dia memang Yunnie? Masa?

“Kau…Yunnie?” tanyaku ragu-ragu.

“Binggo,” katanya senang sambil menjentikkan jarinya.

“Bohoooong…..Kau tidak mungkin Yunnie, lagian suaramu beda dari dia dan kau tak lebih kecil dariku” kataku tak percaya.

“Bodooooooooooh…Setiap orang pasti akan berubah sesuai pertumbuhannya. Lagian cuma kau yang tidak berubah, tetap saja cantik. Atau jangan-jangan kau memang sudah berubah menjadi wanita?”

Tanpa kusadari tangannya mendarat dengan mulusnya di dadaku. Karena saking kagetnya, aku memukul wajahnya.

“YAAAA…APA YANG KAU LAKUKAN?” teriakku.

——-

Karena saking kesalnya dengan orang yang mengaku-ngaku Yunnie, acara ke kantin pun gagal dan sebagai gantinya aku harus membuatkan Changmin bekal selama seminggu. Aishh… anak itu merepotkan sekali.

“Hei Yunho itu orangnya tampan ya?” kata seseorang di belakangku.

“Iya, udah gitu ramah pula,” yang lain menimpali.

Cih, apa-apaan mereka. Orang kayak gitu di bilang ramah? Oh Tuhan, apakah semuanya sudah kena pelet seorang Yunho?

“Hei, kalian tidak tahu kalau dulu dia itu cengeng dan ingusan,” kataku.

Bukannya jijik kepada Yunho, mereka malah semakin tertarik dengannya.

“Waaaah.. dia pasti imut sekali,” kata Yoohwan,  salah satu murid ter.. entahlah ter- apa dia, yang jelas aku tak peduli.

Aku kembali melamun, mengingat apa yang di katakan Yunho tadi. Jika dia memang Yunnieku, berarti aku keterlaluan dong sudah memukulnya?

“Temui aku di klub basket sepulang sekolah,” kata-kata itu terus terngiang di telingaku.

Apa sebaiknya aku menemuinya untuk meminta maaf?

Yah mungkin dengan begitu aku tak perlu merasa bersalah karena telah memukulnya.

————-

Sepulang sekolah, aku benar-benar pergi menemui Yunho. Sebenarnya aku tak mau sendirian ke tempat itu. Tapi tadi semua sahabatku mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Yoochun katanya sudah punya janji kencan dengan Junsu dan Changmin, dia baru saja mendapatkan kupon makan sepuasnya di restoran dekat rumahnya. Jadi, daripada repot-repot memohon mereka untuk menemaniku karena sudah tahu pasti di tolak mentah-mentah, aku memutuskan pergi sendirian menemui Yunho.

Sesampainya di klub basket, aku melihat Yunho sedang duduk sambil mengunyah permen karetnya.

“Akhirnya kau datang juga,” katanya santai.

“Tolong kau jahitkan lengan bajuku dan belikan aku susu murni. Jangan lupa, tidak pake sedotan.” Perintahnya.

Aku termangu, kaget, shock lebih tepatnya.

“Yaa.. memangnya aku pesuruhmu?” tanyaku kesal.

“Bersukurlah aku tidak memintamu uang ganti rugi,” katanya santai.

Seketika itu juga kemarahanku meroket sampai ke ubun-ubunku.

“Aku kan hanya memukulmu? Kenapa aku harus meladenimu?” tanpa sadar aku memukul kepalanya, lagi.

“Aku tak mau meladenimu.” Kataku kesal dan berjalan menuju pintu keluar.

“Joonggie,” panggilnya.

Seketika itu juga langkahku berhenti. Kaget karena dia memanggilku Joonggie.

“Apa?” aku menoleh ke arahnya.

“Biar ku beri tahu kau hal  bagus,” dia mulai mendekatiku dan kemudian kedua tangannya memerangkap tubuhku di pintu keluar. Wajahnya mulai mendekati wajahku. Aku hanya bisa menahan nafasku, tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, wajahku memanas dan tanpa kusadari aku menutup mataku.

“Dengan begitu kau akan menuruti perkataanku” katanya lagi, nafasnya bisa aku rasakan di sekitar wajahku.

Kemudian suasana menjadi senyap seketika. Aku hanya mendengar suara detak jantungku dan merasakan hembusan nafasnya di wajahku.

“Aku..” dia berhenti sebentar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “ Aku masih menyimpan surat cintamu.”

Heh? Seketika itu juga aku membelalakkan mataku. Surat cinta? Memangnya aku pernah memberinya surat cinta? Kapan?

“Surat cinta?” tanyaku bingung.

“Ya, yang kau berikan padaku ketika aku pindah ke Gwangju.”

Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, aku ingat pernah memberikan surat cinta padanya.

“Memang apa yang aku tulis?” tanyaku pelan.

“Rahasia…” katanya sambil menunjukkan senyum devilny.

Huh…orang ini benar-benar menyebalkan. Tidak seperti Yunnieku yang manis.

“Kalau aku menolak?” tantangku.

“Aku akan menyebarkan surat ini ke media. Kau tahu kan acara di TV yang judulnya apa itu? Surat cinta apa surat monyet ya? Ah, molla.”

Ah, aku ingat ada acara reality show seperti itu. Bisa mati aku kalau sampai itu surat di kirim ke sana. Bisa-bisa aku harus menahan malu tujuh turunan.

“Ara…Ara…” aku menyerah.

“Bagus… kenapa tidak dari tadi aja.. hohoho,” dia tertawa dengan senangnya, membuatku ingin membungkan mulutnya dengan sapu yang ada di pojok ruangan.

————

Sejak kejadian itu, aku benar-benar seperti pesuruhnya atau lebih tepatnya aku menjadi budaknya. Sahabat-sahabatku sampai bingung terhadapku. Kata mereka, aku ini bukan Jaejoong yang mereka kenal. Karena Jaejoong yang mereka kenal itu tak mungkin mau di perbudak oleh seseorang, apalagi seperti Yunho. Tapi mereka tak tahu masalahnya kan? Seandainya mereka tahu juga, paling menertawakanku. Aaargh… kenapa sih aku dulu ceroboh sekali? Sampai-sampai memberikan surat cinta kepadanya. Huft…

———–

Sudah sebulan ini hujan mengguyur kotaku dan sudah sebulan juga aku di perbudak oleh iblis yang bernama Yunho. Setiap kali aku mengingatnya, aku ingin memotong-motong mulutnya agar tak menyuruhku seenaknya.

Sejak awal sepertinya dia memang berniat mengerjaiku.

-flashback-

Aku berlari menuju atap sekolah. Hari ini Yunho menyuruhku membelikan dia minuman. Tapi, berhubung aku tak tahu apa yang dia inginkan, aku membelikannya teh dan kopi. Yang membuatku kesal, dia malah meminta susu.

Aaaargh… aku bisa mati bunuh diri gara-gara harus memenuhi semua kebutuhannya. Teriakku dalam hati. Tapi karena aku takut surat cinta yang aku sendiri lupa apa isinya itu di sebarluaskan ke media. Jadi, aku menurut sajalah.

-end flashback-

Aku memandang ke luar jendela. Hari ini hujan turun lagi, membuat semangatku tumbuh lagi. hujan selalu saja membuatku senang. Ntahlah, mungkin karena berhubungan dengan seseorang yang aku sayang. Ya, hujan memiliki hubungan yang erat dengan Yunnie. Karena dia juga, aku jadi menyukai hujan. Setiap ramalannya tentang hujan selalu saja tepat.

Ah, aku ingat. Dulu ketika kami masih SD aku suka sekali memarahinya dan membuatnya menangis. Dulu dia begitu manis, tapi sekarang malah membuatku mati kecapean. Huhu..

————

Aku berjalan melewati lorong sekolah. Seperti biasa, aku harus mengantarkan makanan untuk Yunho ke atap. Tiba-tiba aku dihadang oleh tiga orang yaitu, Heechul, Ryeowook, dan Sungmin. Mereka termasuk orang yang terkenal di seluruh penjuru korea karena mereka adalah penyanyi.

“Hei,” panggil mereka.

“Ya?”

“Aku tak peduli dulu kau apanya Yunho, tapi apa kau tak malu huh? Dulu kau senang sekali mengerjainya,” Heechul yang sepertinya pemimpin mereka berkata dengan muka jijik kepadaku.

“Tapi itu sekarang hanya lelucon,” sahutku

“Lelucon? Huh, kau bercanda? Kau pikir kau punya peluang untuk mendekatinya? Kau itu tak pantas untuknya,” Heechul menunjukkan senyum mengejek ke arahku.

“Itu untuk Yunho kan? Sini kemarikan. Biar kami yang mengantarnya. Kami akan membujuk Yunho untuk melepaskmu supaya kau tak berdekatan dengannya lagi. Dasar kampungan,” ejek mereka.

Aku hanya terdiam tak berkata apa-apa. Sepertinya hatiku terasa sakit mendengar ucapan mereka.

“Kau itu tak pantas untuknya,”

Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Ya, aku memang tak pantas untuknya. Tapi untuk apa aku merasa sedih? Bukannya harusnya aku bahagia karena tidak menjadi budaknya lagi? tapi kenapa hatiku semakin sakit memikirkannya? Apa karena aku mulai menyukainya lagi? Entahlah…

—————

Aku mengikuti pelajaran dengan lemas, sepertinya hari ini semangatku menguap tanpa sebab. Yoosumin selalu menanyakan apa aku sakit? Mereka terlihat begitu khawatir. Hahaha, aku senang masih ada yang mengkhawatirkanku. Ketika aku menjawab begitu, mereka dengan kompaknya menjawab karena aku adalah sahabat mereka. Aku terharu.

Aku menata bukuku yang berserakan di meja karena kugunakan untuk mengerjakan soal yang di tugaskan oleh sonsaengnim. Tiba-tiba saja seseorang mencengkram tanganku. Aku menengok, melihat siapa yang melakukannya. Ternyata Yunho. Ada apa lagi dengannya. Tidak cukupkah dia mengganggu kehidupanku?

“Ikut aku,” katanya sambil menyeretku keluar.

“Lepaskan. Sakit,” rengekku.

Percuma saja, dia tidak menggubrisku sama sekali. Bahkan cengkraman tangannya makin kuat saja. Setelah sampai di bawah pohon belakang sekolah, dia melepaskan cengkramannya.

“APA YANG KAU LAKUKAN BODOOOH?” teriaknya.

Dia marah? Harusnya aku yang marah karena tanganku dicengkram begitu kuat oleh dia. Kenapa dia yang harus marah?

“Aku menyuruhmu yang mengantarkan makananku. Kenapa kemarin mereka yang mengantar huh?” matanya memerah, mungkin saking kesalnya padaku?

“Bukankah mereka sudah menjelaskannya?  Aku tidak mau berurusan denganmu lagi. terserah kau mau mengirimkan surat itu. Aku sudah tidak peduli lagi,” kataku enteng dan langsung pergi dari hadapannya.

“DASAR JOONGGIE BODOH,” teriaknya.

Aku tak peduli apa yang mau dia katakan lagi. aku tidak peduli dengan keadaannya saat ini. Aku tidak peduli dengan perubahannya sekarang. Aku tidak peduli akan dirinya lagi. Terserah… Aku cape.

————-

Aku melihat botol-botol soju yang berserakan di sekitarku. Kurasa sudah cukup banyak aku meminumnya, tapi kenapa aku tak bisa mabuk? Sekali ini saja, aku memohon agar aku mabuk dan menghilangkan semua ingatanku. Entah kenapa, kejadian tadi siang dengannya di bawah pohon menambah sesak dadaku saja. Apa karena aku sudah benar-benar jatuh cinta pada dirinya?

Aku merapatkan jaketku. Dingin. Kenapa malam ini begitu dingin? Kenapa hujan tidak turun saja agar aku bisa merasakan kenyamanan?

Aku merenung, berharap agar hujan turun. Berharap hujan mampu menghilangkan semua isi otakku tentangnya. Berharap aku larut di dalamnya dan ikut mengalir meninggalkan otakku. Pokoknya aku berharap hujan turun saat ini. Oh Tuhan, tidak bisakah kau menurunkan hujan untuk hambamu yang sedang kesusahan ini? Ku mohon Tuhan.

Aku menundukkan kepala sambil terus berharap hujan turun.

Tetes demi tetes air bisa kurasakan berjatuhan ke tubuhku. Tuhan mendengarkan doaku. Aku tertawa, senang. Ternyata Tuhan masih peduli padaku. Aku pun tak menyia-nyiakan momen ini. Aku berdiri di atas bangku taman. Kurentangkan tanganku ke samping, ku tengadahkan wajahku ke atas. Bahagia, ya sekarang aku sedang bahagia karena hujan turun juga.

Tapi jika seseorang sejak pagi tak makan dan malamnya minum soju begitu banyak. Apa yang akan di rasakannya? Pusing bukan? Ya, saat ini aku sedang merasakannya. Tapi seperti biasa aku tak memperdulikannya karena sekarang aku sedang bersama hujan. Itu yang kupikirkan tadi. Sekarang, sepertinya tubuhku menghianatiku. Aku mulai merasakan sekitarku berputar. Apa saat ini sedang gempa? Sepertinya tidak.

Tiba-tiba saja tubuhku oleng ke samping dan kepalaku sepertinya membentur sesuatu. Sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku mendengar seseorang meneriakkan namaku.

————–

Aku terbangun dari tidurku. Ku kerjap-kerjapkan mataku. Ku lihat sekelilingku. Aku dimana? Tempat ini begitu asing bagiku. Apa aku mabuk? Sepertinya tidak. Ku gerakkan tangan kananku. Sepertinya ada sesuatu yang menindihnya. Ku gerakkan lagi tanganku. Dia terbangun.

“Joonggie… kau sudah sadar?” tanyanya sambil mengucek-ucek matanya.

“Hmm…” aku bingung mau menjawab apa.

Tiba-tiba tangannya menyentuh keningku.

“Sudah tidak panas lagi. Untunglah,” katanya.

“Ini dimana? Dan kenapa aku ada di sini?” tanyaku.

“Kau di rumahku. Kebetulan saat kau pingsan tadi malam di taman, aku sedang lewat. Jadi aku bawa kau ke sini,” terangnya.

“Oh ya, maaf karena aku mengganti bajumu tanpa ijin. Aku takut kau tambah sakit karena bajumu basah. Jadi, aku ganti saja. Mianhae,” katanya penuh penyesalan.

Aku membuka selimut yang menutupi  tubuhku. Memang sudah di ganti. Berarti…

“Huwaaaaaaa…. Kau melihat tubuhku?” tanyaku malu.

“Iya,” jawabnya polos.

“Kyaaaaaaa….” Aku menutup wajahku dengan selimut. Malu.

Ya, aku merasa malu karena tubuhku di lihat oleh orang lain. Pasti dia juga melihat adik kecilku? Oh Tuhaaaaaan…..

“Tenang Joonggie… Aku tidak menerkammu kok,” dia tertawa.

“Tapi…sama saja kau sudah melihat adik kecilku,”

“Toh nanti juga aku bakal sering lihat adik kecilmu,” celetukmu.

“Apa kau bilang?” wajahku memanas, malu.

“Tidak, tidak bilang apa-apa. Sekarang istirahatlah dulu. Nanti aku yang mengijinkan kau di sekolah,” katanya penuh perhatian.

Aku menurut saja. Ntah kenapa aku merasa nyaman diperlakukan seperti ini. Tapi tetap saja aku malu. Huwaaaaaaa…

————–

Yunho sudah berangkat sejak tadi. Karena merasa bosan, aku beranjak dari tempat tidur dan melihat-lihat isi kamar Yunho. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang menarik pendanganku. Sebuah surat merah jambu tergeletak di atas meja.

Sepertinya aku mengenal surat ini, tapi dimana?

Kuberanikan diri untuk membukanya karena aku tak mau merasa penasaran. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku penasaran.

Ketika aku membuka surat itu, aku langsung mengenali tulisannya. Ini tulisanku. Aku ingat sekarang. Saat itu Yunnie akan pindah sekolah dan karena aku khawatir tentangnya, aku menulis surat untuknya.

Aku membaca isi suratku lagi.

Dear Yunnie,

Yunnie, aku tahu selama ini aku selalu kejam padamu, memarahimu, membentakmu. Itu aku lakukan agar kau tak terlalu tergantung dengan orang lain. Agar kau bisa lebih dewasa dan mandiri.

Yunnie, setelah berpisah, aku harap kau tak melupakanku. Hehehe…

Aku berharap kau bisa minum susu sendiri. Jangan sampai kau merepotkan orang lain seperti kau merepotkanku hanya gara-gara kau tak bisa minum susu ya.

O ya, semoga kau semakin tinggi agar kau tidak diejek oleh teman-temanmu.

Yunnie… fighting…

Saranghae ❤ ❤ ❤

Aku menutup surat itu. Pantas saja dia marah. Aku melupakan surat ini. Aku yang mengharapkan dia berubah dan ketika dia sudah berubah, aku malah memarahinya.

Yunnie…Mianhae..

Setelah itu, aku bergegas memasakkan nasi untuk Yunnie..

Aku ingin membuat kejutan untuknya, kalau perlu aku ingin memberinya pelukan dan bertubi-tubi ucapan maaf.

———-

“Aku pulaaaang,”

Aku langsung bergegas menuju pintu. Menyambutnya dengan hangat.

“Selamat datang Yunnie..” kurentangkan kedua tanganku.

Dia menatapku dengan bingung.

“Apa yang kau lakukan Joonggie? Dan oh.. kau memanggilku Yunnie?” tanyanya dengan wajah yang berseri-seri.

“Hei, tidak maukah kau memelukku?” aku tak menggubris pertanyaannya.

“Tentu saja mau,” dia langsung memelukku, erat.

Kami berpelukan cukup lama.

“Ngomong-ngomong aku sudah membuatkanmu makan siang,” kataku sambil menariknya masuk.

“wuaaaah…. kau masih sakit ya? Jadinya baik sama aku?” tanyamu setengah bercanda.

“Ah, ya sudah makanannya aku kasih Changmin saja,” aku pura-pura ngambek.

“Huwaaa…. Andwaee… iya deh maaph,”

Hahaha… mukanya begitu tampan. Ah, dia memang tampan. Aku terus memandangnya yang sedang makan ,tanpa sadar.

“Kenapa memandangku begitu? Apa kau jatuh cinta lagi padaku?” godanya.

“Tepat,” kataku mengiyakan.

Kulihat dia langsung berhenti mengunyah dan memandangku dengan tatapan tak percaya.

“jinja?”

“Ne.. Aku sudah ingat semuanya. Isi surat itu juga, aku sudah ingat,” kataku sambil tersenyum.

Aku melihat dia tersenyum lebar. Sepertinya dia bahagia. Bukan, dia memang bahagia. Dia mendekatiku dan memelukku.

“Apa kau sudah bisa minum susu sekarang?” tanyaku.

“Ya sudah, seperti yang kau tulis. Bukankah aku sudah melakukan semua yang kau tulis?” tanyanya sambil tersenyum.

“Ya.. dan maafkan aku karena melupakannya.” Aku membenamkan wajahku di dadanya.

“Aniii…”

“Heh? Kok?”

“Kau masih punya satu hutang lagi padaku,” dia tersenyum licik, membuatku takut saja.

“me…memang a…”

Belum selesai ucapanku, Yunho sudah menautkan bibirnya ke bibirku. Awalnya aku kaget, tapi lama-lama aku menikmatinya.

“mm…”

“Jae…”

“mm..”

“saranghae,” katanya sambil terus mengecupiku.

“nado..”

Kami terus berciuman, mencurahkan segala perasaan yang kami pendam selama ini. Rasanya sungguh nikmat. Entahlah… Aku sungguh menikmati bibirnya yang lembut menaut di bibirku. Aku tahu, inilah yang dinamakan surga dunia.

Ciuman yang awalnya tanpa nafsu sekarang berubah 180 derajat. Sekarang tak ada lagi batas diantara kami.  Dan kami pun… ^0^

FIN