PG13/1ST/(S/Y?)/TRUSTY

Annyeoong yeoreobuuuun… *hug atu2*

Saya bawa ff geje dan menyebalkan yang mungkin bakal membuat semua marah padaku atau sebaliknya?

Entahlah…

Hahaha

Sebelum pada baca, aku bakal ngasih  tahu kalo ini cuma pikiran-pikiran kejiku aja…

Bukan kenyataan ^^

Jadi kalo ada kata-kata yang tidak mengesankan,mohon maafkan *deep bow*

Aku tahu, aku bukan author yang baik dalam hal tulis menulis…

Tapi aku mohon DON’T BE SILENT READER

*ceileh bahasaku*

 

Nb: bacanya sambil dengerin I Love You (Junho), Wasurenaide, White Lie dkk ^^

 

Yoooo…CHEK IT OUT ^0^

——————-

Aku menatap nanar kedua sahabatku yang sedang menyanyi di depanku. Sekarang kami sedang berada di LA untuk pembuatan album baru kami, tanpa mereka. Sungguh mengenaskan bukan? Lima tahun bersama dan berakhir dengan perpecahan? Kepercayaan yang kami bangun bersama hancur begitu saja hanya karena keegoisan kami atau mereka? Entahlah, yang jelas ini terjadi karena sikap pengecut kami semua. Jika memang kami ingin bersama, mengapa kami tak memberontak saja? Persetan dengan mereka, persetan dengan semua orang. Mengapa semua ini harus terjadi? Itulah yang selalu kupikirkan. Andai waktu itu kami… Andai waktu itu.. dan selalu saja andai waktu itu, selalu berandai-andai dalam pikiran. Mengapa tidak bertindak saja daripada menghabiskan hidup dengan berandai-andai? Itulah… karena kami terlalu pengecut.

Menyebalkan mungkin mengakui bahwa kami ini memang pengecut yang selalu bersembunyi di balik dukungan fans kami. Tapi itulah kenyataannya, mengapa takut untuk mengakuinya?

Bukankah lebih baik begitu di banding terus saja lari dari kenyataan?

“Junsu, apa kau sakit?,” suara Jaejoong membuyarkan lamunanku.

Aku menengok ke arah Junsu, benar saja wajahnya begitu pucat, begitu mengenaskan. Tapi bukan Junsu namanya jika tak mampu menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Dia menggeleng dan menyunggingkan senyum kepada kami berdua. Mungkin dia mengira kami akan percaya begitu saja, tapi itu salah. Tidakkah dia berpikir? Kami selalu bersama hampir lima tahun lebih. Tapi kami diam saja, tak bertanya apapun lagi. kami tahu, jika dia sudah mengatakan tidak, maka kami harus menurutinya. Dia terlalu baik kukira dengan tidak membiarkan seorangpun khawatir akan dirinya.

Aku sedih, kau tahu? Mungkin kau harus tahu memang. Tapi seperti biasa, bibir ini terlalu kelu untuk mengatakannya padamu. Sesungguhnya, setiap yang kau rasakan pasti akan kurasakan, ataupun mungkin kami semua?

———–

Setelah jadwal hari ini selesai, kami pulang ke penginapan kami selama di LA. Aku melirikmu, kau terlihat sangat rapuh… wajah putihmu semakin pucat. Aku mendekatimu untuk memastikan kondisimu. Tapi kau menampik tanganku ketika hendak memegang dahimu.

“Aku baik-baik saja hyung,” kau tersenyum.

Kau tahu..aku tahu kau cuma pura-pura  baik, aku tahu itu Su. Tapi kenapa? Kenapa kau tak pernah mau berbagi denganku? Kita satu.. begitukan yang kau katakan dulu? Lalu kenapa?

Aku menatap nanar punggungmu yang masuk ke dalam kamar. Sakit Su, sakiiiit…

Aku menoleh ke arah Jaejoong. Dia seperti mayat hidup. Tak mau berbicara sedikitpun….

Semenjak berita kematian Park Yongha, sahabatnya, dia menjadi pemurung. Yang biasanya dia bakal mengerjai Junsu atau bahkan aku, sekarang tidak lagi. dia lebih banyak diam dibanding bicara…

Tidakkah mereka berdua tahu? Aku juga tersiksa, tersiksa melihat mereka berdua seperti itu.

———-

Malam semakin larut, aku beranjak ke kamar. Ketika aku melewati kamar Junsu, terdengar rintihan kecil… seperti memanggil nama seseorang…. Junho?

Akupun langsung membuka pintu kamar Junsu. Benar saja, di depanku nampak Junsu yang begitu menyedihkan. Wajahnya pucat, seperti mayat dan tubuhnya menggigil. Akupun langsung mendekatinya dan oh Tuhan, dia demam…

Aku langsung menelepon manager hyung untuk datang dan setelah itu kami membawa Junsu ke rumah sakit. Jaejoong? Jangan tanya, dia semakin murung…

Stres, itulah yang cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Junsu yang belum membuka matanya dan Jaejoong yang makin murung. Sangat menyebalkan…

Tuhan… bisakah kau memberi kami jalan keluar untuk masalah yang ini?

Aku tak sanggup lagi…

——–

Hari ini tepat seminggu Junsu di rumah sakit, tapi belum ada tanda-tanda dia akan membuka matanya dan hal itu menumbuhkan kecemasan dalam diriku. Apakah dia akan membuka matanya lagi? Apakah dia bisa tersenyum lagi? Apakah dia? dan selalu apakah dia?

Pikiran-pikiran menakutkan mulai menggerogoti isi otakku. Aku frustasi, sangat frustasi malah. Dokter yang merawat Junsu sepertinya menyadari perasaanku ini. Dia mendekatiku setelah dia selesai memeriksa Junsu.

“Tenanglah, dia akan baik-baik saja dan percayalah dia pasti akan bangun,” kata dokter itu sambil berlalu.

Kata-kata dokter itu menelusup jauh ke dalam hatiku dan berhasil melepas cengkraman pikiran-pikiran menakutkan yang ada di otakku. Aku menatap punggung dokter yang sudah menjauh dan kemudian melihat ke arah sesosok manusia yang terbaring tak berdaya. Aku memandangnya sendu. Semoga saja yang dikatakan dokter itu benar.

Jika kalian bertanya dimana Jaejoong berada. Dia ada di apartemen, tetap murung dan masih saja bergelut dengan pikirannya sendiri. Mungkin rasa shock ditinggal sahabatnya belum hilang, apalagi ditambah dengan keadaan Junsu yang sekarang. Dia mungkin bertambah shock.

Sedangkan Yunho dan Changmin? Ntahlah, berita tentang mereka saja tak pernah aku dengar lagi sejak masalah itu datang menerpa kami. Bahkan parahnya aku tak tahu mereka masih hidup atau tidak. Menyebalkan bukan? Padahal saat ini aku juga ingin berbagi dengan mereka. Aku tak sanggup menghadapi ini sendiri. Tapi kemana mereka? Menelepon saja tidak.

——–

Aku pulang ke apartemen untuk mengambil baju bersih. Saat aku memasuki apartemen, tanpa sengaja aku melihat Jaejoong sedang melamun sambil menggenggam pisau. sontak aku langsung lari ke arahnya dan merebut pisau dari tangannya.

“KAU GILA JAE…” teriakku setengah frustasi.

“Mian,” Cuma itu yang keluar dari mulutnya.

Aku mengatur nafasku supaya kembali normal. Aku tak boleh memarahi Jaejoong, itu saran dokter. Katanya perasaan dia masih labil, jadi harus menjaga perasaannya. Menyebalkan…

“mian..” kataku lirih.

“Jangan lakukan itu lagi, arasseo? Kau tahu itu hanya akan menambah kesedihan saja. Sekarang cepat kau siap-siap, kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Kau juga sekali-kali harus menjenguk Junsu juga kan?”

“Nee, mian,” diapun masuk ke kamarnya untuk mengambil barang yang diperlukannya.

———

Aku dan Jaejoong masuk ke kamar dan mendapati Junsu duduk sambil menyandarkan punggungnya kepinggiran ranjang. Aku menghela nafasku lega. Ternyata dia sudah bangun.

Kami mendekatinya dan dia tersenyum ke arah kami. Manis, pikirku.

“hyung, sejak kapan dia sadar?” tanyaku pada manager hyung yang menggantikanku menjaganya ketika aku pulang.

“Tak lama setelah kau pulang,”

“Curaaaaang..” Sungutku.

“heh?” tanyanya tak mengerti.

“Kenapa saat aku di dekatmu, kau tak membuka mata sih? Kau tahu aku sangat khawatir dan sempat berfikir kau tak akan membuka matamu dan tersenyum kepada kami lagi,” tak terasa, air mataku meleleh begitu saja.

“Tapi sekarang aku sudah bangun, jadi jangan menangis lagi..jebaaaal..uljima..” dia menghapus air mataku.

Hal itu bukannya menenangkanku malah makin membuatku tambah menangis.

“Kenapa masih menangis?” tanyanya khawatir.

“Aniii..aku hanya…lega,” aku berusaha tersenyum.

“Ah hyung ke sini?” tanya Junsu ke Jaejoong yang keberadaanya hampir kulupakan.

“Nee,” jawab Jaejoong sambil tersenyum.

Senyum pertama mungkin, setelah kematian Park Yongha.

Akhirnya… mereka kembali normal…jaejoong sembuh, Junsu juga sembuh..

Tapi DBSK belum sembuuuh…

———

“Jae,Su…” panggilku ketika kami kembali ke apartemen.

“Wae?” tanya mereka bersamaan dan langsung mengambil tempat di depanku.

“Bisakah kita saling membagi?”

Mereka memandangku dengan tatapan ‘apa maksudmu Park Yoochun?’

“err.. maksudku, bisakah kalian lebih terbuka satu sama lain… atau lebih tepatnya kepadaku? Kalian tahu akhir-akhir ini aku menderita melihat kalian seperti itu. Kalian tahukan, kita hanya tinggal  bertiga…aku merasa…” aku menundukkan kepalaku.

“sssttt…Jangan katakan itu Chunnie…Kita masih bisa berlima lagi…Aku percaya itu,”  Jaejoong memelukku erat.

“Tapi bahkan mereka tak pernah terdengar kabarnya… Nomer saja diganti. Dan apakah mereka memikirkanmu dan Junsu? Tidakkan? Mereka bahkan tak terlihat batang hidungnya di sini. Hanya sekedar melihat keadaanmu dan Junsu saja mereka sepertinya enggan,” kataku setengah frustasi.

“Kau salah Chunnie,” kata Junsu tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” aku menatapnya tak mengerti.

“Mereka…aku percaya mereka mengkhawatirkan kita,”

“Apa buktinya? Tak adakan?” aku ingin sekali teriak, namun aku terlalu lemah.

“Dia..maksudku Yunho, dia meneleponku tadi dan menanyakan kabar kita semua. Dia begitu khawatir ketika mendengar tentang aku yang terpukul karena kepergian Yongha dan Junsu yang tiba-tiba drop,” terang Jaejoong.

“Kenapa kau tak memberitahuku?” aku menatapnya, meminta penjelasan.

“Mian, kupikir kau tak ingin mengetahuinya,”

“Jadi Chunnie… ku mohon jangan pernah kau berpikir bahwa kita tinggal bertiga atau berpikir kau hanya sendirian di dunia ini,” Junsu tersenyum kepadaku.

“Tapi kalian harus janji, jangan menutupi perasaan kalian lagi. Aku juga ingin menjadi tempat berbagi,” sungutku.

“Nee Chunnieeeeee…” mereka berdua mengacak-acak rabutku.

“Jadi sekarang tersenyumlaaaaaah dan ingat, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Itu hanya akan menyusahkan dirimu saja.” Perintah Junsu.

“Nee…” aku menganggukkan kepalaku dan air mataku seketika itu juga tumpah.

“yaaah BABO… kenapa menangis?” tanya Jaejoong.

“Aku hanya terharu,”

Jaejoongpun langsung memelukku.

“Curaaaaang…. aku juga mau peluk Chunnie..” teriak Junsu.

Akhirnya kami berakhir dengan pelukan yang hangat dan menyenangkan.

Aku berharap apa yang mereka katakan itu benar… dan aku juga berharap, kita bisa bersama lagi…berlima…

Ternyata selama ini aku salah.. mereka mungkin tak ingin berontak demi kebaikan kami semua…dan satu kenyataan yang baru aku tahu..mereka masih memperdulikan kami.

Dan yang jelas, kami bukan seorang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik fans atau mungkin sebenarnya hanya aku yang pengecut? Entahlah, pokoknya sekarang aku percaya kami hanya seorang idola yang sedang membutuhkan waktu untuk bisa bersama lagi dan membutuhkan kekuatan dari kepercayaan para fans untuk kembali bersama.

“PARK YOOCHUN JJAAAAAAAANG,” teriakku.

BLETAK

“BABO…harusnya DBSK tahu,” terang Jaejoong.

“Ah nee..hehehe,” aku tertawa.

1…2…3…

“DONG BANG SHIN KI JJAAAAAAAAAAAAANG,” teriak kami bertiga.

Untuk para cassiopeia, tolong percaya kepada kami ya…hehehe ^0^

-FIN-

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s